- Senin ba'da Maghrib - pukul 20.30 Kajian Bahasa Arab
- Rabu ba'da Maghrib - pukul 20.30 Kajian Tahsin Al Qur'an
Selasa, 05 Januari 2016
Tagged under: laporan kegiatan, rekaman kajian
Rekaman Kajian Wisma Mahasiswa Cinta Sedekah
Alhamdulillah
wassalatu wassalamu ala Rasulillah wa'ala
alihi wasahabihi ajma' in amma ba'ad
Segala
puji bagi Allah Rabb semesta alam yang telah memberikan berbagai macam nikmat
kepada kita tiada hingga. Shalawat serta salam senantiasa terpanjatkan kepada uswatun
hasanah kita Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Pada
kesempatan kali ini kami akan berbagi rekaman kajian rutin yang alhamdulillah
telah terlaksana dari akhir bulan oktober sampai desember bertempat di Wisma
Mahasiswa Cinta Sedekah Jl. Sukawening No. 102 Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Dilaksanakan sepekan dua kali pertemuan
Kajian
rutin ini berfokus pada Tahsin Al Qur’an dan Bahasa Arab Dasar, memakai buku
panduan yaitu, Metode Asy Syafi’i dan Durusul Lughah Al Arabiyah
Jilid 1.
Kami
mengucapkan jazakumullah khairan kepada Ustadz Fahmi dan Ustadz Dedi yang
telah meluangkan waktunya untuk mengajar di wisma walaupun beliau berdua juga
disibukan mengajar di SMP IT Imam Bukhari, semoga Allah balas dengan Surga-Nya, Amin.
Tak
lupa kami haturkan juga kepada pembina wisma, yaitu Ustadz Musa dan Ustadz
Fauzan yang telah mencurahkan tenanganya baik moril dan materil demi
terbangunnya wisma, semoga Allah balas dengan Surga-Nya, Amin.
Berikut
rekaman kajian
#KAJIAN WISMA: TAHSIN & TAHFIDZ AL QUR'AN
Pemateri: Ust. Fahmi Hasan, Lc
#KAJIAN WISMA: BAHASA ARAB (DURUSUL LUGHOH AL AROBIYYAH JILID 1)
Pemateri: Ust. Dedi
InsyaAllah untuk
rekaman pertemuan selanjutnya akan kami bagikan di akhir semester genap
(Juni/Juli)
Kamis, 26 November 2015
Tagged under:
Kajian Kitab Tauhid - Keutamaan Para Sahabat Bagian 3
Berikut ini merupakan rekaman kajian kitab tauhid yang disampaikan oleh Ustadz Yahya Abdul Aziz –hafidzahullah- , pada Selasa sore, 12 Safar 1437/ 24 Nopember 2015. Dan pada kajian kali ini, beliau akan menyampaikan bab tentang “Keutamaan Para Sahabat Bagian 2 “. Semoga bermanfaat.
Pembahasan dalam Rekaman Kajian Kitab At-Tauhid Ini
berkata Syaikh Salim bin Ied Al Hilali " Kesimpulan Ahlussunnah wal Jama'ah terhadap perselisihan yang dialami oleh sahabat adalah tidak membahas secara mendetail dan tida memerinci, memiliki sikap hati-hati, dan diam (dalam arti mendoakan mereka)"
Allah berfirman
berkata Syaikh Salim bin Ied Al Hilali " Kesimpulan Ahlussunnah wal Jama'ah terhadap perselisihan yang dialami oleh sahabat adalah tidak membahas secara mendetail dan tida memerinci, memiliki sikap hati-hati, dan diam (dalam arti mendoakan mereka)"
Allah berfirman
وَٱلَّذِينَ جَآءُو
مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٲنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَـٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِى قُلُوبِنَا غِلاًّ۬
لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ۬ رَّحِيمٌ
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". (Al Hasyr: 10)
Setelah Allah menjelaskan keutamaan muhajirin dan anshar, Allah menyebutkan akan datang orang-orang yang mendoakan sahabat
Ahlusunnah punya jawaban terhadap berbagai cerita tentang konflik para sahabat
1. Cerita-cerita ada yang bohong / dibuat-buat oleh musuh
2. kalaupun shahih ada yang ditambah-tambah, dikurangi, dan dirubah-ubah
3. jika ada yang shahih, para sahabat mendapat udzur karena ijtihad yang mereka lakukan
4. Kesalahan sahabat dihapus oleh taubat-taubat mereka
Simak penjelasan lebih lengkap tentang “Keutamaan Para Sahabat” dalam rekaman berikut
Link Unduh
Rabu, 18 November 2015
Tagged under:
Berikut ini merupakan rekaman kajian kitab tauhid yang disampaikan oleh Ustadz Yahya Abdul Aziz –hafidzahullah- , pada Selasa sore, 7 Safar 1437/ 18 Nopember 2015. Dan pada kajian kali ini, beliau akan menyampaikan bab tentang “Keutamaan Para Sahabat Bagian 2 “. Semoga bermanfaat.
Kajian Kitab Tauhid - Keutamaan Para Sahabat Bagian 2
Pembahasan dalam Rekaman Kajian Kitab At-Tauhid Ini
Keutamaan para sahabat bertingkat-tingkat
Syaikh Fauzan -hafidzahullah- membawakan perkataan para ulama
"Sahabat yang paling mulia adalah khalifah yang empat, Abu Bakar, Umar bin Al Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu'anhum"
diikuti dengan para sahabat yang dijanjikan surga
1. Thalhah bin Ubaidillah
2. Az Zubair bin Awwam
3. Abdurrahman bin Auf
4. Abu Ubaidah bin Al Jarrah
5. Sa'ad bin Abi Waqash
6. Sa'id bin Zaid
kemudian para sahabat yang ikut perang badar,
kemudian para sahabat yang berbaiat di baiturridhwan,
para sahabat yang masuk islam sebelum penaklukan mekkah
karena Allah berfirman
dan para sahabat muhajirin dan ashar secara umum
Keutamaan para sahabat bertingkat-tingkat
Syaikh Fauzan -hafidzahullah- membawakan perkataan para ulama
"Sahabat yang paling mulia adalah khalifah yang empat, Abu Bakar, Umar bin Al Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu'anhum"
diikuti dengan para sahabat yang dijanjikan surga
1. Thalhah bin Ubaidillah
2. Az Zubair bin Awwam
3. Abdurrahman bin Auf
4. Abu Ubaidah bin Al Jarrah
5. Sa'ad bin Abi Waqash
6. Sa'id bin Zaid
kemudian para sahabat yang ikut perang badar,
kemudian para sahabat yang berbaiat di baiturridhwan,
para sahabat yang masuk islam sebelum penaklukan mekkah
karena Allah berfirman
وَمَا لَكُمۡ أَلَّا
تُنفِقُواْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَٲثُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ
لَا يَسۡتَوِى مِنكُم مَّنۡ أَنفَقَ مِن قَبۡلِ ٱلۡفَتۡحِ وَقَـٰتَلَۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ
أَعۡظَمُ دَرَجَةً۬ مِّنَ ٱلَّذِينَ أَنفَقُواْ مِنۢ بَعۡدُ وَقَـٰتَلُواْۚ
وَكُلاًّ۬ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٌ۬
Dan mengapa kalian tidak menafkahkan (sebagian
harta kalian) pada jalan Allah, padahal milik Allah semua pusaka langit dan
bumi tidak sama di antara kalian orang yang menafkahkan (hartanya) dan
berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada
orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah
menjanjikan kepada masing- masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah
mengetahui apa yang kalian kerjakan. (Al Hadid: 10)
Simak penjelasan lebih lengkap tentang “Keutamaan Para Sahabat” dalam rekaman berikut
Link Unduh
Senin, 16 November 2015
Tagged under: kajian kitab tauhid, rekaman kajian
من لقي النبي صلى الله عليه و سلم مؤمنا به و مات على الإسلام
Kajian Kitab Tauhid - Keutamaan Para Sahabat Bagian 1
Berikut
ini merupakan rekaman kajian kitab tauhid yang disampaikan oleh Ustadz Yahya
Abdul Aziz –hafidzahullah- , pada Selasa sore, 28 Muharram 1437/ 10 Nopember
2015. Dan pada kajian kali ini, beliau akan menyampaikan bab tentang “Keutamaan
Para Sahabat “. Semoga bermanfaat.
Pembahasan
dalam Rekaman Kajian Kitab At-Tauhid Ini
Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullah – menjelaskan tentang definisi sahabat:
من لقي النبي صلى الله عليه و سلم مؤمنا به و مات على الإسلام
Siapa saja yang bertemu dengan Rasulullah -shalallahu 'alaihi
wa sallam- dalam keadaan beriman dan meninggal sebagai orang Islam.”
Keutamaan Sahabat dalam Al Qur’an
Keutamaan Sahabat dalam Al Qur’an
وَٱلسَّـٰبِقُونَ
ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَـٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم
بِإِحۡسَـٰنٍ۬ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنۡہُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ
جَنَّـٰتٍ۬ تَجۡرِى تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيہَآ أَبَدً۬اۚ
ذَٲلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama
(masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti
mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah
dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di
dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang
besar. (At-Taubah: 100)
Simak penjelasan lebih lengkap tentang “Keutamaan Para Sahabat”
dalam rekaman berikut
Link
Unduh
Kamis, 22 Oktober 2015
Tagged under: kajian riyadhus shalihin, rekaman kajian
Kajian Riyadhus Shalihin - Berbakti Kepada Orangtua
Berikut ini merupakan rekaman kajian kitab Riyadhus Shalihin yang
disampaikan oleh Ustadz Yahya Abdul Aziz –hafidzahullah- , pada Kamis sore, 9
Muharram 1437/ 22 Oktober 2015. Dan pada kajian kali ini, beliau menyampaikan
bab tentang “Berbakti Kepada Orangtua“. Semoga bermanfaat.
Pembahasan dalam Rekaman Kajian Kitab Riyadhus Shalihin ini:
Berbakti kepada orangtua merupakan amalan yang sangat dicintai oleh Allah
dan paling utama setelah shalat
Dari Abdullah bin Mas’ud katanya, “Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu
“alaihi wa sallam tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah ? Nabi
Shallallahu “alaihi wa sallam menjawab, Pertama shalat pada waktunya (dalam
riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya), kedua berbakti kepada kedua
orang tua, ketiga jihad di jalan Allah”.[HR. Bukhari dan Muslim]
Hadits ini menunjukan anjuran untuk berbakti kepada orangtua
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
لاَ يَجْزِى وَلَدٌ وَالِدًا إِلاَّ أَنْ يَجِدَهُ
مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ
“Seorang anak tidak akan bisa membalas kebaikan orang tuanya, kecuali dia
mendapatkan orang tuanya sebagai budak, kemudian dia membelinya, kemudian dia
memerdekakannya.” (HR. Bukhari
dalam Adabul Mufrad, no. 10)
Simak penjelasan lebih lengkap tentang “Berbakti Kepada Orangtua” dalam
rekaman berikut
Link Unduh
Selasa, 20 Oktober 2015
Tagged under: kajian kitab tauhid, rekaman kajian
Kajian Kitab Tauhid - Pengertian Bid'ah dan Pembagiannya
Berikut ini merupakan rekaman kajian kitab tauhid yang
disampaikan oleh Ustadz Yahya Abdul Aziz –hafidzahullah- , pada Senin sore, 7 Muharram
1437/ 20 Oktober 2015. Dan pada kajian kali ini, beliau akan menyampaikan bab
tentang “Pengertian Bid’ah dan Pembagiannya “. Semoga bermanfaat.
Pembahasan dalam Rekaman Kajian Kitab At-Tauhid Ini
Bid'ah menurut bahasa, diambil dari bida' yaitu mengadakan
sesuatu tanpa ada contoh
Imam Asy-Syathibi dalam kitab Al-I’tisham (kitab yang membahas seluk-beluk
bid’ah). Beliau menjelaskan bid’ah adalah:
اَلْبِدْعَةُ: طَرِيْقَةٌ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٌ، تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ
يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا الْمُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُّدِ ِللهِ سُبْحَانَهُ.
“Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat
(tanpa ada dalil) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan
ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah
.”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.
“Barangsiapa yang mengada-ngada dalam urusan (agama) kami ini,
sesuatu yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak” [HR. Bukhari (no. 2697)
dan Muslim (no. 1718)]
Simak penjelasan lebih lengkap tentang “Pengertian Bid’ah dan
Pembagiannya” dalam rekaman berikut
Link Unduh
Minggu, 18 Oktober 2015
Tagged under: jatinangor, kajian islam
Kajian Islam Jatinangor dan Sekitarnya
KAJIAN DI JATINANGOR - SUMEDANG
# KAJIAN KITAB ULAMA #
1. Cara Mudah Memahami Aqidah Islam yang benar
Dari Kitab "Tauhid"
Karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan
Bersama Ustadz Yahya Abdul Aziz -Hafidzahullah-
Rutin setiap hari Selasa (setiap pekan), pukul 16.00 WIB – Selesai
Tempat : Masjid Al Huda (Samping RM. SUHARTI dan PUSKESMAS) Jatinangor
2. Bertamasya ke Teman Orang-orang Shalih
Dari Kitab "Riyadhus Shalihin"
Karya Imam An-Nawawi
Bersama Ustadz Yahya Abdul Aziz -Hafidzahullah-
Rutin setiap hari Kamis (setiap pekan), pukul 16.00 WIB – Selesai
Tempat : Masjid Al Huda (Samping RM. SUHARTI dan PUSKESMAS) Jatinangor
3. Fiqih Mudah Bagi Kehidupan
Dari Kitab “Bulughul Maram”
Karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani
Bersama Ustadz Muhammad Rofiq -Hafidzahullah-
Rutin setiap hari Jum'at (Pekan ke-2 dan ke-4), pukul 16.00 WIB – Selesai
Tempat: Masjid Raya Padjadjaran (Balé Aweuhan)
GRATIS UNTUK UMUM IKHWAN DAN AKHWAT
Contact Person
Ikhwan : 085725367255
Akhwat : 085273005845
1. Cara Mudah Memahami Aqidah Islam yang benar
Dari Kitab "Tauhid"
Karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan
Bersama Ustadz Yahya Abdul Aziz -Hafidzahullah-
Rutin setiap hari Selasa (setiap pekan), pukul 16.00 WIB – Selesai
Tempat : Masjid Al Huda (Samping RM. SUHARTI dan PUSKESMAS) Jatinangor
Bersama Ustadz Yahya Abdul Aziz -Hafidzahullah-
Rutin setiap hari Kamis (setiap pekan), pukul 16.00 WIB – Selesai
Tempat : Masjid Al Huda (Samping RM. SUHARTI dan PUSKESMAS) Jatinangor
Dari Kitab “Bulughul Maram”
Karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani
Bersama Ustadz Muhammad Rofiq -Hafidzahullah-
Rutin setiap hari Jum'at (Pekan ke-2 dan ke-4), pukul 16.00 WIB – Selesai
Tempat: Masjid Raya Padjadjaran (Balé Aweuhan)
GRATIS UNTUK UMUM IKHWAN DAN AKHWAT
Contact Person
Ikhwan : 085725367255
Akhwat : 085273005845
Jumat, 09 Oktober 2015
Tagged under: rekaman kajian
عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: ( رَأَى اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم رَجُلًا وَفِي قَدَمِهِ مِثْلُ اَلظُّفْرِ لَمْ يُصِبْهُ اَلْمَاءُ فَقَالَ: اِرْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيّ
Anas Radliyallaahu 'anhu berkata: Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melihat seorang laki-laki yang pada telapak kakinya ada bagian sebesar kuku yang belum terkena air maka beliau bersabda: "Kembalilah lalu sempurnakan wudlumu." Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Nasa'i.
Hadits 61
عَنْهُ قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه
Dari Anas dia berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berwudlu dengan satu mud air dan mandi dengan satu sho' hingga lima mud air. Muttafaq Alaihi
Hadits 62
عَنْ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسْبِغُ اَلْوُضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ اَلْجَنَّةِ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِم وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَزَادَ ( اَللَّهُمَّ اِجْعَلْنِي مِنْ اَلتَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ اَلْمُتَطَهِّرِينَ
Umar Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tiada seorang pun di antara kamu yang berwudlu dengan sempurna kemudian berdo'a: Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Esa tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hambaNya dan utusanNya-kecuali telah dibukakan baginya pintu syurga yang delapan ia dapat masuk melalui pintu manapun yang ia kehendaki." Diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi dengan tambahan (doa): "Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku pula termasuk orang-orang yang selalu mensucikan diri."
Simak Penjelasannya di link berikut
https://drive.google.com/ open?id=0B8auIYLitIjmdXlXaX pSRkpXZG8
https://www.dropbox.com/s/ zini58y50up9h7v/ Kajian%20Bulughul%20Maram%2 0-%20%20Hemat%20Berwudhu%2 0%26%20Doa%20Setelah%20Wud hu%20-%20Hadits%20ke%2060- 63.amr?dl=0
Kajian Kitab Bulughul Maram Hadits 60-62
Alhamdulilah
telah selesai kajian dari kitab Bulughul Maram yang disampaikan oleh Ust.
Muhammad Rofiq
Tanggal
25 Dzulhijjah 1436 / 9 Oktober 2015
Tempat: Masjid Raya Padjadjaran
Membahas Hadits ke 60-62
Hadits 60
Tempat: Masjid Raya Padjadjaran
Membahas Hadits ke 60-62
Hadits 60
عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: ( رَأَى اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم رَجُلًا وَفِي قَدَمِهِ مِثْلُ اَلظُّفْرِ لَمْ يُصِبْهُ اَلْمَاءُ فَقَالَ: اِرْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيّ
Anas Radliyallaahu 'anhu berkata: Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melihat seorang laki-laki yang pada telapak kakinya ada bagian sebesar kuku yang belum terkena air maka beliau bersabda: "Kembalilah lalu sempurnakan wudlumu." Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Nasa'i.
Hadits 61
عَنْهُ قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه
Dari Anas dia berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berwudlu dengan satu mud air dan mandi dengan satu sho' hingga lima mud air. Muttafaq Alaihi
Hadits 62
عَنْ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسْبِغُ اَلْوُضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ اَلْجَنَّةِ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِم وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَزَادَ ( اَللَّهُمَّ اِجْعَلْنِي مِنْ اَلتَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ اَلْمُتَطَهِّرِينَ
Umar Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tiada seorang pun di antara kamu yang berwudlu dengan sempurna kemudian berdo'a: Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Esa tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hambaNya dan utusanNya-kecuali telah dibukakan baginya pintu syurga yang delapan ia dapat masuk melalui pintu manapun yang ia kehendaki." Diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi dengan tambahan (doa): "Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku pula termasuk orang-orang yang selalu mensucikan diri."
Simak Penjelasannya di link berikut
https://drive.google.com/
https://www.dropbox.com/s/
Rabu, 28 Mei 2014
Tagged under:
Diriwayatkan dari Saham bin Munjab, dia berkata, 'Dalam peperangan di wilayah Darain al-Ala' bin al-Hadrami bersama kami. al-Ala' memanjatkan doa, ketiga doa tersebut dikabulkan Allah.'
Kemudian kami berjalan bersama-sama, sehingga tiba di suatu tempat. kami mencari air untuk wudhu tetapi kami tidak mendapatkannya. lalu al-A'la bin al-Hadrami berdiri untuk mengerjakan shalat dua rakaat kemudian berdoa,
'Ya Allah, Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Wahai yang Maha Tinggi dan Mahaagung. Sesungguhnya kami adalah hamba-hambaMu yang sedang dalam perjalanan untuk memerangi musuhMu. Turunkanlah hujan kepada kami agar kami dapat minum, dan berwudhu dari najis. jika kami telah meninggalkan tempat itu, janganlah ada seorang pun yang Engkau beri jatah air hujan itu.'
Belum jauh jarak yang kami tempuh, kami tiba di sebuah sungai deras yang airnya berasal dari air hujan. Dia berkata, 'Kita berhenti di sungai ini dulu untuk minum.' Aku mengisi bejanaku, lalu aku sengaja meninggalkannya di tempat itu. Aku berkata, 'Aku akan lihat, apakah betul permohonannya dikabulkan?'
Kemudian kami berjalan kurang lebih satu mil. Aku berkata kepada teman-temanku, 'Aku lupa, bejanaku tidak terbawa.' Aku balik lagi ke tempat itu tidak pernah turun hujan. Selanjutnya aku ambil bejanaku dan aku bawa serta.
Setelah kami sampai di Darain, kami mendapati di hadapan kami terbentang sungai yang menghalangi antara kami dan pasukan musuh. Ketika itu al-Ala' memanjatkan doa lagi,
'Ya Allah, Dzat yang Maha Mengetahui, yang Maha Santun, yang Mahaagung. sesungguhnya kami adalah hamba-hambaMu, bukalah jalan untuk kami menuju musuhMu.'
Tidak terduga kami dapat melewati sungai tersebut. Bahkan kuda-kuda kami satu pun tidak basah karena air, sehingga kami dapat berhadapan dan menyerang musuh.
Setelah kami kembali dari peperangan, al-Ala' mengeluh sakit perut, yang membawanya meninggal dunia. sedangkan kami tidak mendapatkan air untuk memandikan jenazahnya. Kemudian kami kafani baju yang dikenakan lalu kami kuburkan.
Tidak berapa lama dari perjalanan kami, kami mendapatkan mata air. kemudian kami berkata, 'Marilah kita balik ke tempat itu untuk mengeluarkan jenazah al-Ala' dan memandikannya.' Kami semua kembali, menyusuri tempat ia dimakamkan. Ternyata kami tidak mampu menemukan makamnya dengan demikian kami gagal memandikan jenazahnya.
Kemudian ada seorang laki-laki berkata, "Aku pernah mendengar dia berdoa kepada Allah,
'Ya Allah, Dzat yang Maha Mengetahui, Mahasantun dan Mahaagung, sembunyikanlah jenazahku, jangan Engkau perlihatkan auratku kepada seorang pun.'
Lalu kami kembali dan kami meninggalkan jasad al-Ala' yang telah dimakamkan di tempat itu.
Disalin dari kitab 'Mi'ah Qishash min Qishashish Shalihin' 99 Kisah Orang Shalih karya Syaikh Muhammad bin Hamid Abdul Wahhab, Penerbit Darul Haq, Jakarta.
Sumber Gambar
AL-ALA' BIN AL-HADHRAMI - Menunggang Kuda Diatas Air - Kisah Keajaiban Do'a
Kemudian kami berjalan bersama-sama, sehingga tiba di suatu tempat. kami mencari air untuk wudhu tetapi kami tidak mendapatkannya. lalu al-A'la bin al-Hadrami berdiri untuk mengerjakan shalat dua rakaat kemudian berdoa,
'Ya Allah, Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Wahai yang Maha Tinggi dan Mahaagung. Sesungguhnya kami adalah hamba-hambaMu yang sedang dalam perjalanan untuk memerangi musuhMu. Turunkanlah hujan kepada kami agar kami dapat minum, dan berwudhu dari najis. jika kami telah meninggalkan tempat itu, janganlah ada seorang pun yang Engkau beri jatah air hujan itu.'
Belum jauh jarak yang kami tempuh, kami tiba di sebuah sungai deras yang airnya berasal dari air hujan. Dia berkata, 'Kita berhenti di sungai ini dulu untuk minum.' Aku mengisi bejanaku, lalu aku sengaja meninggalkannya di tempat itu. Aku berkata, 'Aku akan lihat, apakah betul permohonannya dikabulkan?'
Kemudian kami berjalan kurang lebih satu mil. Aku berkata kepada teman-temanku, 'Aku lupa, bejanaku tidak terbawa.' Aku balik lagi ke tempat itu tidak pernah turun hujan. Selanjutnya aku ambil bejanaku dan aku bawa serta.
Setelah kami sampai di Darain, kami mendapati di hadapan kami terbentang sungai yang menghalangi antara kami dan pasukan musuh. Ketika itu al-Ala' memanjatkan doa lagi,
'Ya Allah, Dzat yang Maha Mengetahui, yang Maha Santun, yang Mahaagung. sesungguhnya kami adalah hamba-hambaMu, bukalah jalan untuk kami menuju musuhMu.'
Tidak terduga kami dapat melewati sungai tersebut. Bahkan kuda-kuda kami satu pun tidak basah karena air, sehingga kami dapat berhadapan dan menyerang musuh.
Setelah kami kembali dari peperangan, al-Ala' mengeluh sakit perut, yang membawanya meninggal dunia. sedangkan kami tidak mendapatkan air untuk memandikan jenazahnya. Kemudian kami kafani baju yang dikenakan lalu kami kuburkan.
Tidak berapa lama dari perjalanan kami, kami mendapatkan mata air. kemudian kami berkata, 'Marilah kita balik ke tempat itu untuk mengeluarkan jenazah al-Ala' dan memandikannya.' Kami semua kembali, menyusuri tempat ia dimakamkan. Ternyata kami tidak mampu menemukan makamnya dengan demikian kami gagal memandikan jenazahnya.
Kemudian ada seorang laki-laki berkata, "Aku pernah mendengar dia berdoa kepada Allah,
'Ya Allah, Dzat yang Maha Mengetahui, Mahasantun dan Mahaagung, sembunyikanlah jenazahku, jangan Engkau perlihatkan auratku kepada seorang pun.'
Lalu kami kembali dan kami meninggalkan jasad al-Ala' yang telah dimakamkan di tempat itu.
Disalin dari kitab 'Mi'ah Qishash min Qishashish Shalihin' 99 Kisah Orang Shalih karya Syaikh Muhammad bin Hamid Abdul Wahhab, Penerbit Darul Haq, Jakarta.
Sumber Gambar
Sabtu, 19 April 2014
Tagged under: Artikel, Jejak Sejarah & Ibrah
وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ ۚ قَالَ يَا قَوْمِ هَٰؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي ۖ أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ
"Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: 'Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal'."
قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ
"Mereka menjawab: 'Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki'."
قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي إِلَىٰ رُكْنٍ شَدِيدٍ
"Luth berkata: 'Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)'."
قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ ۖ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ ۖ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ ۚ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۚ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ
"Para utusan (malaikat) berkata: 'Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang pun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa adzab yang menimpa mereka, karena sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu Subuh; bukankah Subuh itu sudah dekat'." [QS Hud/11:77-81]
Maka berangkatlah Nabi Luth bersama keluarganya meninggalkan kota tersebut. Menurut Ibnu Katsir rahimahullah, keluarga yang mengikuti Nabi Luth adalah kedua putri beliau saja.[1]
Ketika terbit matahari datanglah adzab Allah 'Azza wa Jalla kepada kaum Nabi Luth 'Alaihissalam. Allah berfirman:
فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ
"Maka tatkala datang adzab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi."
مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ ۖ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ
"Yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim." [QS Hud/11:82-83]
Demikianlah siksaan dan bencana, ia akan menimpa kepada orang yang berbuat zhalim. Mengapakah kita tidak mengambil pelajaran?
KEHANCURAN UMAT NABI SYU'AIB
Umat Nabi Syu'aib adalah penduduk kota Madyan yang menyembah pohon al-Aikah dan senang berbuat curang dalam takaran dan timbangan. Oleh karena itu Allah mengutus Nabi Syu'aib 'Alaihissalam untuk mengajak mereka menyembah Allah dan meninggalkan perbuatan buruk tersebut. Namun mereka menolak ajakan tersebut. Allah mengisahkan dalam firman-Nya:
وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ۚ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ
"Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka Syu'aib. Ia berkata: 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Ilah bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan adzab hari yang membinasakan (kiamat)'."
وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
"Dan Syu'aib berkata: 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan'."
بَقِيَّتُ اللَّهِ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ۚ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ
"Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu."
قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ ۖ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ
"Mereka berkata: 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu (agamamu) menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal'."
قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا ۚ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
"Syu'aib berkata: 'Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rizki yang baik (patutkah aku menyalahi perintahnya). Dan aku tidak berkehendak mengerjakan apa yang aku larang kamu daripadanya. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali'."
وَيَا قَوْمِ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِي أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَ قَوْمَ نُوحٍ أَوْ قَوْمَ هُودٍ أَوْ قَوْمَ صَالِحٍ ۚ وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيدٍ
"Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa adzab seperti yang menimpah kaum Nuh atau kaum Shalih, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu."
وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ
"Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih."
قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا ۖ وَلَوْلَا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ ۖ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ
"Mereka berkata: 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami'."
قَالَ يَا قَوْمِ أَرَهْطِي أَعَزُّ عَلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَاتَّخَذْتُمُوهُ وَرَاءَكُمْ ظِهْرِيًّا ۖ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
"Syu'aib menjawab: 'Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu. Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan'."
وَيَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ سَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَمَنْ هُوَ كَاذِبٌ ۖ وَارْتَقِبُوا إِنِّي مَعَكُمْ رَقِيبٌ
"Dan (dia berkata): 'Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa adzab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah adzab (Rabb), sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu'."
وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ
"Dan tatkala datang adzab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka bergelimpangan di tempat tinggalnya."
كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا ۗ أَلَا بُعْدًا لِمَدْيَنَ كَمَا بَعِدَتْ ثَمُودُ
"Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." [QS Hud/11:84-95]
Dalam surat al-A'raf/7 ayat 91-92, Allah menceritakan kehancuran kaum Nabi Syu'aib dengan gempa dalam firman-Nya:
فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ
"Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka."
الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا ۚ الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَانُوا هُمُ الْخَا
"(Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi."
Juga dalam surat asy-Syu'ara/26 ayat 189-190, Allah menjelaskan kehancuran mereka dengan firman-Nya:
فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمْ عَذَابُ يَوْمِ الظُّلَّةِ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
"Kemudian mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa adzab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya adzab itu adalah adzab hari yang besar."
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman."
Demikianlah kaum Nabi Syu'aib 'Alaihissalam, mereka diadzab dengan tiga adzab sekaligus. Yaitu gempa, suara keras mengguntur dan awan gelap yang menaungi mereka. Semua itu disebabkan karena kekufuran dan kemaksiatan mereka.
KEHANCURAN KAUM SABA'
Diantara kaum yang diadzab Allah adalah kaum Saba'. Kisah mereka diabadikan dalam al-Qur'an untuk dijadikan pelajaran bagi kita. Allah Ta'ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
"Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): 'Makanlah olehmu dari rizki yang (dianugerahkan) Rabb-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabb-mu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun'."
فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ
"Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr."
ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا ۖ وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ
"Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan adzab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir."
وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ ۖ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ
"Dan kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman."
فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
"Maka mereka berkata: 'Ya Rabb kami jauhkanlah jarak perjalanan kami', dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur." [QS Saba'/34:15-19]
Demikianlah Allah hancurkan Negeri Saba' yang makmur dan sentosa dengan banjir yang besar, sehingga kebun-kebun mereka hancur berantakan dan hanya ditumbuhi pohon-pohon Atsl dan Sidr. Ini semua menjadi pelajaran berharga bagi umat manusia.
PELAJARAN BERHARGA
Dari kisah-kisah umat-umat terdahulu, ternyata bencana dan musibah ditimpakan pada suatu umat karena perbuatan maksiat. Hal ini dijelaskan juga dalam banyak hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, di antaranya dalam hadits Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَبُو أَيُّوبَ عَنْ ابْنِ أَبِي مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ
"Hai orang-orang Muhajirin, lima perkara; jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allah agar kamu tidak mendapatinya. (1) Perbuatan keji (seperti: bakhil, zina, minum khamr, judi, merampok dan lainnya) tidaklah dilakukan pada suatu masyarakat dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar wabah penyakit tha'un dan penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang dahulu yang telah lewat. (2) Orang-orang tidak mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, kehidupan susah, dan kezhaliman pemerintah. (3) Orang-orang tidak menahan zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan. (4) Orang-orang tidak membatalkan perjanjian Allah dan perjanjian Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka (orang-orang kafir) menguasai mereka dan merampas sebagian yang ada di tangan mereka. (4) Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak menghukumi dengan kitab Allah, dan memilih-milih sebagian apa yang Allah turunkan, kecuali Allah menjadikan permusuhan di antara mereka."[2]
Oleh karena itu hendaknya kita semua kembali bertaubat dan meninggalkan semua bentuk kemaksiatan, kembali berpegang teguh dan mengamalkan ajaran Islam sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan dipahami para sahabat, tabi'in dan kaum salafush-shalih. Itulah jalan satu-satunya terhindar dari kehinaan. Mudah-mudahan bermanfaat.
_______
Pelajaran dari Umat Terdahulu (2)
بسم الله الرحمن الرحيم
Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc
KEHANCURAN UMAT NABI LUTH
Nabi Luth 'Alaihissalam pergi meninggalkan tempat tinggal pamannya, yaitu Nabi Ibrahim, dan kemudian tinggal di kota Sadum (Sodom) di Palestina. Penduduk kota ini adalah penganut paganisme dan melakukan kemungkaran yang belum pernah dilakukan satu umat pun sebelum mereka.
Nabi Luth 'Alaihissalam pergi meninggalkan tempat tinggal pamannya, yaitu Nabi Ibrahim, dan kemudian tinggal di kota Sadum (Sodom) di Palestina. Penduduk kota ini adalah penganut paganisme dan melakukan kemungkaran yang belum pernah dilakukan satu umat pun sebelum mereka.
Kemungkaran apa yang mereka lakukan? Yaitu mereka melakukan hubungan
seksual sejenis (homo seksual). Nabi Luth telah mendakwahi mereka untuk
beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan kemungkaran tersebut,
namun mereka manolaknya.
Ketika Allah ingin menghancurkan mereka, maka Allah mengutus para malaikatnya dalam bentuk pemuda yang bertamu kepada Nabi Luth. Dan beliau pun merasa sempit, sebab kaumnya tidak akan membiarkan para tamunya begitu saja. Terjadilah perdebatan antara beliau dengan kaumnya yang Allah abadikan dalam firman-Nya:
وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَٰذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ
"Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit'."
Ketika Allah ingin menghancurkan mereka, maka Allah mengutus para malaikatnya dalam bentuk pemuda yang bertamu kepada Nabi Luth. Dan beliau pun merasa sempit, sebab kaumnya tidak akan membiarkan para tamunya begitu saja. Terjadilah perdebatan antara beliau dengan kaumnya yang Allah abadikan dalam firman-Nya:
وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَٰذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ
"Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit'."
وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ ۚ قَالَ يَا قَوْمِ هَٰؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِي ضَيْفِي ۖ أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ
"Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: 'Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal'."
قَالُوا لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ
"Mereka menjawab: 'Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki'."
قَالَ لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي إِلَىٰ رُكْنٍ شَدِيدٍ
"Luth berkata: 'Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)'."
قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ ۖ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ ۖ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ ۚ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۚ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ
"Para utusan (malaikat) berkata: 'Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang pun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa adzab yang menimpa mereka, karena sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu Subuh; bukankah Subuh itu sudah dekat'." [QS Hud/11:77-81]
Maka berangkatlah Nabi Luth bersama keluarganya meninggalkan kota tersebut. Menurut Ibnu Katsir rahimahullah, keluarga yang mengikuti Nabi Luth adalah kedua putri beliau saja.[1]
Ketika terbit matahari datanglah adzab Allah 'Azza wa Jalla kepada kaum Nabi Luth 'Alaihissalam. Allah berfirman:
فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ
"Maka tatkala datang adzab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi."
مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ ۖ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ
"Yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim." [QS Hud/11:82-83]
Demikianlah siksaan dan bencana, ia akan menimpa kepada orang yang berbuat zhalim. Mengapakah kita tidak mengambil pelajaran?
KEHANCURAN UMAT NABI SYU'AIB
Umat Nabi Syu'aib adalah penduduk kota Madyan yang menyembah pohon al-Aikah dan senang berbuat curang dalam takaran dan timbangan. Oleh karena itu Allah mengutus Nabi Syu'aib 'Alaihissalam untuk mengajak mereka menyembah Allah dan meninggalkan perbuatan buruk tersebut. Namun mereka menolak ajakan tersebut. Allah mengisahkan dalam firman-Nya:
وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ۚ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ
"Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka Syu'aib. Ia berkata: 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Ilah bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan adzab hari yang membinasakan (kiamat)'."
وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
"Dan Syu'aib berkata: 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan'."
بَقِيَّتُ اللَّهِ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ۚ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ
"Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu."
قَالُوا يَا شُعَيْبُ أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ ۖ إِنَّكَ لَأَنْتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ
"Mereka berkata: 'Hai Syu'aib, apakah shalatmu (agamamu) menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal'."
قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا ۚ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
"Syu'aib berkata: 'Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rizki yang baik (patutkah aku menyalahi perintahnya). Dan aku tidak berkehendak mengerjakan apa yang aku larang kamu daripadanya. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali'."
وَيَا قَوْمِ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شِقَاقِي أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَ قَوْمَ نُوحٍ أَوْ قَوْمَ هُودٍ أَوْ قَوْمَ صَالِحٍ ۚ وَمَا قَوْمُ لُوطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيدٍ
"Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa adzab seperti yang menimpah kaum Nuh atau kaum Shalih, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu."
وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ
"Dan mohonlah ampun kepada Rabbmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih."
قَالُوا يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًا مِمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا ۖ وَلَوْلَا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ ۖ وَمَا أَنْتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ
"Mereka berkata: 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami'."
قَالَ يَا قَوْمِ أَرَهْطِي أَعَزُّ عَلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَاتَّخَذْتُمُوهُ وَرَاءَكُمْ ظِهْرِيًّا ۖ إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
"Syu'aib menjawab: 'Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu. Sesungguhnya (pengetahuan) Rabbku meliputi apa yang kamu kerjakan'."
وَيَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ سَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَمَنْ هُوَ كَاذِبٌ ۖ وَارْتَقِبُوا إِنِّي مَعَكُمْ رَقِيبٌ
"Dan (dia berkata): 'Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa adzab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah adzab (Rabb), sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu'."
وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ
"Dan tatkala datang adzab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka bergelimpangan di tempat tinggalnya."
كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا ۗ أَلَا بُعْدًا لِمَدْيَنَ كَمَا بَعِدَتْ ثَمُودُ
"Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." [QS Hud/11:84-95]
Dalam surat al-A'raf/7 ayat 91-92, Allah menceritakan kehancuran kaum Nabi Syu'aib dengan gempa dalam firman-Nya:
فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ
"Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka."
الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا ۚ الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَانُوا هُمُ الْخَا
"(Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi."
Juga dalam surat asy-Syu'ara/26 ayat 189-190, Allah menjelaskan kehancuran mereka dengan firman-Nya:
فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمْ عَذَابُ يَوْمِ الظُّلَّةِ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
"Kemudian mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa adzab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya adzab itu adalah adzab hari yang besar."
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman."
Demikianlah kaum Nabi Syu'aib 'Alaihissalam, mereka diadzab dengan tiga adzab sekaligus. Yaitu gempa, suara keras mengguntur dan awan gelap yang menaungi mereka. Semua itu disebabkan karena kekufuran dan kemaksiatan mereka.
KEHANCURAN KAUM SABA'
Diantara kaum yang diadzab Allah adalah kaum Saba'. Kisah mereka diabadikan dalam al-Qur'an untuk dijadikan pelajaran bagi kita. Allah Ta'ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
"Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): 'Makanlah olehmu dari rizki yang (dianugerahkan) Rabb-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabb-mu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun'."
فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ
"Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr."
ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا ۖ وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ
"Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan adzab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir."
وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ ۖ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ
"Dan kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman."
فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
"Maka mereka berkata: 'Ya Rabb kami jauhkanlah jarak perjalanan kami', dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur." [QS Saba'/34:15-19]
Demikianlah Allah hancurkan Negeri Saba' yang makmur dan sentosa dengan banjir yang besar, sehingga kebun-kebun mereka hancur berantakan dan hanya ditumbuhi pohon-pohon Atsl dan Sidr. Ini semua menjadi pelajaran berharga bagi umat manusia.
PELAJARAN BERHARGA
Dari kisah-kisah umat-umat terdahulu, ternyata bencana dan musibah ditimpakan pada suatu umat karena perbuatan maksiat. Hal ini dijelaskan juga dalam banyak hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, di antaranya dalam hadits Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَبُو أَيُّوبَ عَنْ ابْنِ أَبِي مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ
"Hai orang-orang Muhajirin, lima perkara; jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allah agar kamu tidak mendapatinya. (1) Perbuatan keji (seperti: bakhil, zina, minum khamr, judi, merampok dan lainnya) tidaklah dilakukan pada suatu masyarakat dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar wabah penyakit tha'un dan penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang dahulu yang telah lewat. (2) Orang-orang tidak mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, kehidupan susah, dan kezhaliman pemerintah. (3) Orang-orang tidak menahan zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan. (4) Orang-orang tidak membatalkan perjanjian Allah dan perjanjian Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka (orang-orang kafir) menguasai mereka dan merampas sebagian yang ada di tangan mereka. (4) Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak menghukumi dengan kitab Allah, dan memilih-milih sebagian apa yang Allah turunkan, kecuali Allah menjadikan permusuhan di antara mereka."[2]
Oleh karena itu hendaknya kita semua kembali bertaubat dan meninggalkan semua bentuk kemaksiatan, kembali berpegang teguh dan mengamalkan ajaran Islam sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan dipahami para sahabat, tabi'in dan kaum salafush-shalih. Itulah jalan satu-satunya terhindar dari kehinaan. Mudah-mudahan bermanfaat.
_______
Maraji':
1. Taisir al-Lathif al-Manan fi Khulashah Tafsir al-Qur'an, Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, Cetakan ke-3, Tahun 1414 H, Tanpa penerbit.
2. Shahih Qashash al-Anbiya', Syaikh Salim bin 'Id al-Hilali, Cetakan ke-1, Tahun 1422 H, Maktabah al-Furqan.
[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XI/1428H/2007M, Rubrik Mabhats, Alamat Redaksi : Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo - Solo 57183, Telp. 0271-5891016]
_______
Footnote
[1] Tafsir al-Lathif al-Mannan Fi Khulashah Tafsir al-Qur'an, halaman 152.
1. Taisir al-Lathif al-Manan fi Khulashah Tafsir al-Qur'an, Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, Cetakan ke-3, Tahun 1414 H, Tanpa penerbit.
2. Shahih Qashash al-Anbiya', Syaikh Salim bin 'Id al-Hilali, Cetakan ke-1, Tahun 1422 H, Maktabah al-Furqan.
[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XI/1428H/2007M, Rubrik Mabhats, Alamat Redaksi : Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo - Solo 57183, Telp. 0271-5891016]
_______
Footnote
[1] Tafsir al-Lathif al-Mannan Fi Khulashah Tafsir al-Qur'an, halaman 152.
[2] HR Ibnu Majah no. 4019, al-Bazzar, al-Baihaqi dari Ibnu Umar.
Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 106 Shahih at-Targhib wat-Tarhib no. 764, Maktabah al-Ma'arif.
- sumber -
almanhaj.or.id
Langganan:
Postingan (Atom)










.jpg)


